Takbiran Idul Fitri adalah salah satu syiar Islam yang paling meriah, menandakan berakhirnya bulan Ramadan dan datangnya hari kemenangan. Kumandang “Allahu Akbar” berulang-ulang memenuhi udara, membawa suka cita dan semangat kebersamaan. Namun, seringkali muncul pertanyaan tentang kapan waktu yang tepat untuk memulai dan mengakhiri takbiran ini menurut syariat Islam. Pemahaman ini penting agar kita dapat melaksanakannya dengan benar.
Menurut mayoritas ulama, waktu memulai takbiran Idul Fitri adalah sejak terbenamnya matahari pada malam 1 Syawal. Artinya, begitu azan Magrib berkumandang pada malam terakhir Ramadan, takbiran sudah bisa mulai dikumandangkan. Ini adalah penanda resmi berakhirnya waktu puasa dan dimulainya perayaan Idul Fitri, meskipun shalat Id baru akan dilaksanakan keesokan paginya.
Kumandang takbir ini terus berlanjut sepanjang malam hingga pagi hari Idul Fitri. Disunahkan bagi umat Muslim untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak takbir, zikir, dan ibadah lainnya. Suara takbir yang bersahutan dari masjid, mushala, atau bahkan dari rumah-rumah menciptakan atmosfer perayaan yang khas dan penuh kekhusyukan, menyambut hari yang fitri.
Adapun waktu mengakhiri takbiran Idul Fitri adalah saat imam memulai shalat Id. Begitu imam mengangkat takbiratul ihram untuk memulai shalat, seluruh jamaah menghentikan takbir mereka dan fokus pada shalat. Ini menandai puncak dari syiar takbiran yang telah berlangsung sejak malam sebelumnya, dan kini beralih pada ibadah shalat yang lebih terfokus.
Lafaz takbiran yang umum dikenal dan disunahkan adalah: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah wallahu akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.” Lafaz ini dapat ditambah dengan zikir lainnya seperti “Allahu akbar kabira walhamdulillahi katsira wa subhanallahi bukratan wa ashila.” Takbiran ini merupakan pujian dan pengagungan kepada Allah SWT.
Hikmah di balik anjuran takbiran adalah untuk mengagungkan asma Allah di hari kemenangan. Setelah sebulan penuh menundukkan diri pada ibadah puasa, kini tiba saatnya untuk memuji kebesaran-Nya. Takbir juga berfungsi sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah, termasuk nikmat telah menyelesaikan ibadah Ramadan dan ampunan dosa.
Selain itu, takbiran juga berfungsi sebagai syiar Islam. Dengan kumandang takbir yang keras dan merata, umat Muslim menunjukkan identitas dan kebersamaan mereka dalam merayakan hari besar. Ini menguatkan tali persaudaraan antar sesama dan menciptakan rasa suka cita yang universal di seluruh penjuru dunia Islam.