Pondok pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, tidak hanya fokus pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan karakter santri. Salah satu nilai luhur yang ditanamkan sejak dini adalah gotong royong. Praktik ini menjadi fondasi penting dalam memupuk rasa kebersamaan di antara para santri, mempersiapkan mereka untuk hidup bersosial di kemudian hari. Aktivitas gotong royong ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah metode efektif untuk mengajarkan arti persatuan dan kepedulian.
Di lingkungan pesantren, gotong royong bisa terlihat dalam berbagai bentuk. Misalnya, pada hari Sabtu, 21 Juni 2025, sekitar pukul 07.30 pagi, seluruh santri dari tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dikerahkan untuk membersihkan area masjid pesantren. Ada yang bertugas menyapu, mengepel, membersihkan jendela, hingga menata kembali rak-rak buku di perpustakaan masjid. Kegiatan ini dilakukan secara kolektif, tanpa komando yang kaku, melainkan berdasarkan kesadaran bersama akan tanggung jawab. Setiap santri tahu persis tugasnya dan melaksanakannya dengan penuh semangat, karena mereka memahami bahwa kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah adalah tanggung jawab bersama. Hal ini berbeda dengan sistem kerja individual, di mana setiap orang hanya memikirkan tugasnya sendiri.
Selain kebersihan lingkungan, gotong royong juga sering diterapkan dalam persiapan acara-acara besar pesantren, seperti peringatan Maulid Nabi atau Haflah Akhirussanah (wisuda). Misalkan pada acara Haflah Akhirussanah yang akan diselenggarakan pada tanggal 10 Juli 2025 mendatang, seluruh santri dan bahkan alumni turut serta dalam persiapan. Ada yang membantu memasang tenda, menata kursi, menyiapkan konsumsi, hingga mendekorasi panggung. Kerjasama lintas angkatan ini menciptakan ikatan emosional yang kuat. Mereka belajar untuk saling membantu, melengkapi kekurangan satu sama lain, dan menghadapi tantangan bersama demi mencapai tujuan yang sama. Petugas keamanan pesantren, seperti Bapak Slamet, juga ikut membantu mengarahkan alur kerja agar semua berjalan lancar.
Praktik gotong royong ini memiliki dampak jangka panjang pada karakter santri. Mereka tidak hanya belajar tentang kerja keras dan tanggung jawab, tetapi juga tentang pentingnya solidaritas dan empati. Ketika seorang santri melihat temannya kesulitan mengangkat barang berat, secara otomatis ia akan datang membantu tanpa diminta. Inilah esensi dari gotong royong yang ditanamkan di pesantren: kepekaan terhadap kondisi sekitar dan kemauan untuk meringankan beban orang lain. Nilai-nilai ini akan menjadi bekal berharga ketika mereka kembali ke masyarakat, di mana mereka akan lebih mudah beradaptasi, berinteraksi, dan berkontribusi secara positif, seperti terlibat dalam kegiatan sosial atau kepemudaan di lingkungan tempat tinggal mereka.