Gema Selawat Nariyah Thariqun Najah: Iringi Langkah Santri Menuju Tempat Buka Puasa

Kegiatan sore hari di Pesantren Thariqun Najah selama bulan Ramadan memiliki keunikan tersendiri yang sangat berkesan bagi setiap orang yang menyaksikannya. Sesaat setelah kelas pengajian kitab selesai, ribuan santri keluar dari aula dengan tertib sambil melantunkan gema selawat Nariyah. Suara kolektif yang berwibawa ini memenuhi setiap lorong dan ruang terbuka di pesantren, menciptakan suasana yang sangat religius dan penuh semangat. Selawat Nariyah dipilih karena keyakinan akan keutamaannya dalam membukakan jalan keluar dari segala kesulitan dan sebagai sarana memohon perlindungan kepada Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.

Lantunan doa yang berirama ini dilakukan untuk iringi langkah santri yang sedang berjalan bersama menuju area makan atau ruang terbuka untuk berbuka. Tradisi ini bertujuan agar waktu-waktu krusial menjelang berbuka tidak terbuang sia-sia dengan obrolan yang tidak bermanfaat. Di Pesantren Thariqun Najah, setiap detik di bulan Ramadan dianggap sebagai emas yang harus diisi dengan dzikir dan selawat. Dengan berselawat secara serempak, perjalanan pendek menuju ruang makan berubah menjadi sebuah parade spiritual yang sangat indah. Hal ini melatih kedisiplinan santri untuk tetap berada dalam kondisi ingat (dzikr) kepada Tuhan dalam setiap kondisi, baik saat diam maupun saat sedang bergerak.

Momen menuju tempat buka puasa ini menjadi sangat emosional ketika matahari mulai benar-benar terbenam. Wajah-wajah santri yang tampak lelah setelah seharian menahan lapar dan dahaga, sekaligus belajar dengan giat, justru terlihat bercahaya saat lisan mereka terus bergerak melantunkan bait-bait pujian. Thariqun Najah mengajarkan bahwa kebahagiaan saat berbuka puasa bukan hanya soal makanan lezat, tetapi soal kemenangan dalam melawan hawa nafsu dan keberhasilan dalam menjaga ketaatan sepanjang hari. Gema selawat tersebut adalah bentuk syukur atas nikmat kekuatan yang diberikan oleh Allah untuk menyelesaikan puasa hari itu dengan baik.

Selain nilai spiritual, kegiatan ini juga memiliki fungsi manajerial yang baik. Dengan berselawat bersama, pergerakan santri menjadi lebih teratur dan ritmis, sehingga risiko penumpukan massa di pintu masuk ruang makan bisa diminimalisir secara alami. Para santri bergerak dalam satu komando suara yang sama, menunjukkan betapa kuatnya rasa ukhuwah atau persaudaraan di antara mereka. Tidak ada yang saling mendahului atau berebut, karena fokus mereka terbagi antara langkah kaki dan kekhusyukan selawat. Inilah bentuk pendidikan karakter yang dilakukan secara implisit di lingkungan pesantren, di mana ketertiban lahir dari kesadaran hati, bukan dari paksaan fisik.