Era digital telah mengubah wajah komunikasi secara global, tidak terkecuali dalam dunia Dakwah Media Sosial. Ponpes Thariqun Najah menyadari bahwa santri dan pengajar tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus informasi. Diperlukan sebuah langkah konkret dan terukur untuk memastikan bahwa pesan-pesan agama yang moderat, sejuk, dan berbasis literatur klasik tetap mampu bersaing dengan konten-konten viral lainnya. Oleh karena itu, pesantren ini merumuskan berbagai pendekatan strategis dalam menghadapi dinamika yang ada di jagat maya.
Tantangan utama dalam menyebarkan ajaran agama di internet adalah masalah algoritma dan durasi perhatian audiens yang semakin pendek. Konten yang sifatnya edukatif seringkali kalah populer dibandingkan dengan konten hiburan yang bersifat superfisial. Di sinilah strategi kreatif diperlukan. Pengurus pesantren mulai melatih para santri untuk mengemas materi pengajian yang berat menjadi infografis yang menarik atau video pendek dengan narasi yang mudah dicerna. Hal ini dilakukan tanpa mengurangi esensi dari ilmu yang disampaikan, namun disesuaikan dengan bahasa visual yang diminati oleh generasi milenial dan Gen Z.
Selain aspek kreativitas, isu validitas data juga menjadi perhatian serius. Banyaknya berita bohong atau hoaks yang berbalut agama seringkali membingungkan masyarakat awam. Dakwah Media Sosial yang dilakukan oleh lembaga ini difokuskan pada penyediaan konten yang memiliki sanad atau silsilah keilmuan yang jelas. Dengan mencantumkan referensi kitab-kitab otoritatif dalam setiap unggahan, mereka berusaha membangun kepercayaan publik bahwa konten yang mereka konsumsi memiliki landasan akademik dan spiritual yang kuat. Ini adalah upaya untuk membentengi umat dari pemahaman yang keliru atau radikal.
Penggunaan platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube juga dimaksimalkan untuk menjangkau audiens yang lebih luas, melampaui batas geografis pesantren. Namun, terjun ke dunia ini berarti harus siap dengan berbagai respon negatif atau komentar yang tidak konstruktif. Santri diajarkan untuk memiliki mentalitas yang kuat dan etika berkomunikasi yang baik. Mereka dilatih agar tidak terpancing emosi saat menghadapi perbedaan pendapat, melainkan menjawabnya dengan argumen yang santun dan ilmiah. Etika bermedia sosial ini menjadi kurikulum tambahan yang sangat relevan di masa sekarang.