Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sering kali menjadi ancaman serius bagi kelestarian biodiversitas Indonesia. Namun, di garis depan perjuangan melawan api, muncul sekelompok relawan unik yang membawa semangat jihad lingkungan. Mereka adalah Pasukan Hijau, sebuah brigade khusus yang dibentuk dari para santri terpilih yang memiliki dedikasi tinggi terhadap keselamatan bumi. Kehadiran mereka di lokasi bencana bukan untuk melakukan orasi, melainkan untuk berjibaku dengan asap dan panas demi menyelamatkan ekosistem yang sedang sekarat.
Para Santri Thariqun Najah ini telah melewati serangkaian pelatihan intensif yang tidak biasa bagi standar pendidikan agama. Selain menguasai ilmu alat dan fiqih, mereka dilatih oleh tim Manggala Agni dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengenai teknik pemadaman api darat. Mereka belajar cara membuat sekat bakar agar api tidak meluas, teknik penggunaan pompa air mekanis, hingga cara navigasi di tengah hutan yang tertutup asap pekat. Kedisiplinan yang mereka pelajari di pesantren menjadi modal utama dalam menjalankan operasi pemadaman yang sangat berisiko tinggi.
Misi utama untuk Padamkan Api Hutan ini sering kali membawa mereka ke medan-medan yang sulit dijangkau oleh kendaraan berat. Dengan peralatan seadanya namun penuh keberanian, Pasukan Hijau bergerak menembus rimbunnya hutan. Bagi mereka, setiap pohon yang terbakar adalah kerugian bagi umat manusia, dan memadamkan api adalah bentuk nyata dari upaya mencegah kerusakan di muka bumi (daf’ul mafasid). Jihad yang mereka usung adalah jihad melawan kehancuran ekologis yang disebabkan oleh kelalaian atau keserakahan manusia.
Peran nyata pesantren Thariqun Najah dalam penanggulangan bencana ini telah mendapatkan apresiasi luas dari berbagai pihak. Ketika terjadi titik api di sekitar wilayah mereka, para santri ini adalah pihak pertama yang melakukan respons cepat sebelum bantuan pemerintah tiba. Mereka bekerja secara sif, bergantian antara menjaga posko pengungsian satwa dan turun langsung ke titik api. Tak jarang, mereka juga membantu melakukan penyuluhan kepada petani di sekitar hutan agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, sebuah pendekatan persuasif yang lebih efektif karena didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.