Pondok Pesantren Thariqun Najah telah lama dikenal sebagai institusi yang peduli terhadap pemberdayaan masyarakat sekitar. Melalui program unggulan baru, para santri kini didorong untuk menjadi seorang Social Entrepreneur atau wirausaha sosial. Berbeda dengan pengusaha pada umumnya yang hanya mengejar keuntungan finansial, wirausaha sosial di pesantren ini dilatih untuk membangun unit bisnis yang fokus utama tujuannya adalah memecahkan berbagai problematika sosial yang ada di pedesaan. Di sini, bisnis dianggap sebagai perpanjangan dari nilai-nilai filantropi Islam; sebuah cara untuk memberikan solusi nyata bagi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan akses ekonomi yang sering kali menghambat kemajuan masyarakat desa di sekitar mereka.
Para santri di Thariqun Najah diajarkan untuk melakukan pemetaan masalah sebelum meluncurkan sebuah inisiatif bisnis. Mereka masuk ke desa-desa untuk melakukan observasi dan dialog dengan warga guna mengidentifikasi apa yang paling dibutuhkan. Apakah itu masalah rantai distribusi hasil tani yang tidak adil, ataukah minimnya akses air bersih? Setelah menemukan masalahnya, para santri mulai merancang solusi masalah desa melalui model bisnis yang berkelanjutan. Misalnya, mereka membangun koperasi syariah yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen kota, sehingga keuntungan petani meningkat secara signifikan. Di sini, santri berperan sebagai jembatan inovasi yang membawa ilmu manajemen modern ke dalam kearifan lokal pedesaan yang bersahaja.
Kegiatan kewirausahaan sosial ini sangat selaras dengan visi pesantren dalam mencetak kader pemimpin yang membumi. Di Thariqun Najah, santri tidak hanya belajar tentang hukum dagang dalam kitab-kitab fikih, tetapi juga langsung mempraktikkannya dengan semangat gotong royong. Mereka belajar bahwa sebuah perusahaan sosial akan sukses jika mampu memberikan dampak positif yang terukur bagi lingkungan sekitarnya. Dengan melatih jiwa kewirausahaan sejak dini, pesantren sedang menyiapkan lulusan yang mandiri secara ekonomi dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mereka tidak akan menjadi beban bagi negara dengan mencari kerja setelah lulus, melainkan justru menjadi pencipta lapangan kerja yang memberdayakan ribuan orang di desa mereka masing-masing.